Jadi Pohon Setelah Mati? Tren Kremasi Ramah Lingkungan yang Sedang Viral
Jadi Pohon Setelah Mati? Tren Kremasi Ramah Lingkungan yang Sedang Viral
Seiring meningkatnya kesadaran terhadap lingkungan, cara masyarakat memberikan penghormatan terakhir kepada orang tercinta juga mulai berubah. Jika dahulu pemakaman konvensional menjadi pilihan utama, kini muncul berbagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Salah satu yang sedang banyak dibicarakan adalah konsep "menjadi pohon setelah meninggal dunia."
Meski terdengar seperti ide futuristik, konsep ini sudah mulai diterapkan di berbagai negara melalui penggunaan biodegradable urn dan teknologi human composting. Keduanya menawarkan cara baru untuk mengenang seseorang sekaligus memberikan manfaat bagi alam. (Bios Urn)
Simak juga artikel berikut:
10 Ucapan Belasungkawa yang Sopan, Tulus, dan Tidak Terdengar Klise
Apa Itu Biodegradable Urn?
Biodegradable urn adalah wadah abu kremasi yang dibuat dari bahan alami sehingga dapat terurai di dalam tanah. Berbeda dengan guci konvensional, jenis urn ini dirancang untuk ditanam bersama bibit atau benih pohon.
Umumnya, wadah memiliki dua ruang terpisah. Abu kremasi ditempatkan di bagian bawah, sedangkan media tanam dan benih berada di bagian atas. Pemisahan ini penting karena abu kremasi memiliki tingkat pH yang cukup tinggi sehingga tidak ideal jika langsung bersentuhan dengan akar muda. Setelah akar tumbuh kuat, keduanya akan bercampur secara alami. (Bios Urn)
Hasil akhirnya bukan berarti abu berubah menjadi pohon, melainkan pohon tumbuh sebagai simbol kehidupan yang terus berlanjut dan menjadi memorial hidup bagi keluarga.
Simak juga artikel berikut:
Mengenal Tahapan Pemulasaraan Jenazah dari Awal Hingga Prosesi Terakhir
Mengapa Banyak Orang Menyukainya?
Konsep ini menarik karena menawarkan makna yang lebih personal dibandingkan menyimpan abu di dalam guci.
Beberapa alasan mengapa semakin diminati antara lain:
Mengurangi penggunaan material yang sulit terurai.
Menjadi bentuk penghormatan yang menyatu dengan alam.
Menciptakan memorial hidup yang dapat dikunjungi keluarga.
Cocok bagi mereka yang mencintai lingkungan semasa hidupnya.
Memberikan nilai emosional karena pohon akan terus bertumbuh selama bertahun-tahun. (Evaheld Memorials)
Simak juga artikel berikut:
Kapan Sebaiknya Memilih Kremasi? Ini Pertimbangan yang Perlu Dipahami
Lalu, Apa Itu Human Composting?
Selain menanam abu kremasi bersama pohon, terdapat teknologi lain yang dikenal sebagai human composting atau Natural Organic Reduction (NOR).
Dalam metode ini, jenazah tidak dikremasi maupun dimakamkan secara konvensional. Tubuh ditempatkan dalam ruang khusus bersama material organik seperti serpihan kayu, jerami, dan bahan alami lainnya. Dengan pengaturan suhu, oksigen, dan kelembapan, proses dekomposisi berlangsung secara alami hingga menghasilkan tanah yang kaya unsur organik dalam waktu sekitar 30–60 hari, tergantung sistem yang digunakan. (New York Post)
Tanah tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sesuai aturan yang berlaku di masing-masing negara, misalnya untuk penghijauan atau area memorial.
Simak juga artikel berikut:
Cara Memilih Jasa Dokumentasi Kedukaan yang Profesional dan Menghormati Keluarga
Apakah Sudah Bisa Dilakukan di Indonesia?
Hingga saat ini, konsep human composting belum menjadi layanan yang umum tersedia di Indonesia. Begitu pula penggunaan biodegradable urn masih tergolong terbatas dan belum banyak diterapkan sebagai bagian dari layanan kedukaan.
Namun, meningkatnya minat masyarakat terhadap pemakaman hijau menunjukkan bahwa tren ini berpotensi berkembang di masa mendatang, seiring meningkatnya kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Hal yang Perlu Dipahami
Walaupun sering disebut sebagai "menjadi pohon setelah mati", penting dipahami bahwa pohon tidak tumbuh karena abu kremasi menjadi pupuk. Abu hasil kremasi justru memiliki karakteristik yang perlu dikelola agar tidak menghambat pertumbuhan tanaman. Karena itulah produk biodegradable urn menggunakan media tanam khusus atau memisahkan abu dari akar pada tahap awal. (Bios Urn)
Dengan kata lain, pohon menjadi simbol kehidupan baru yang tumbuh berdampingan dengan kenangan, bukan hasil perubahan abu secara langsung.
Penghormatan Terakhir yang Terus Berkembang
Setiap keluarga memiliki cara berbeda dalam mengenang orang tercinta. Ada yang memilih pemakaman tradisional, kremasi, penyimpanan abu, hingga memorial yang menyatu dengan alam.
Tidak ada pilihan yang paling benar. Yang terpenting adalah memilih prosesi yang sesuai dengan nilai, keyakinan, serta keinginan keluarga, sehingga penghormatan terakhir dapat dilakukan dengan penuh makna dan ketulusan.








